KOTAJOGJA.COM – Pembangunan Selokan Van Der Wijk pada awalnya difungsikan sebagai saluran irigasi untuk perkebunan tebu yang banyak terdapat di wilayah Minggir, Moyudan hingga Sedayu. Pada masa tersebut di Yogyakarta terjadi peningkatan industri gula. Selokan Van Der Wijk tidak hanya berfungsi sebagai saluran irigasi perkebungan tebu saja melainkan sebagai salah satu referensi penggunaan teknologi gravitasi bumi dalam merancang pembuatan bangunan irigasi tersebut.

Tentang Selokan Van Der Wijk

slokan-7
Salah Satu Sudut Selokan Van Der Wijk

Hal yang menarik dari Selokan Van Der Wijk, pembangunannya menggunakan teknologi gravitasi bumi sehingga tidak ada penggunaan teknologi mesin sama sekali.  Hal ini bisa dilihat dari pembuatan Buk Renteng dan talang air yang terbuat dari tembaga. Buk Renteng dibuat lebih tinggi dari jalan dan area persawahan disekitarnya, karena buk ini adalah jembatan bagi saluran air yang melintasinya dan bagian bawahnya dibuat sebagai terowongan untuk dilewati kendaraan. Bagian bawah Buk Renteng ini menarik karena terdapat lengkungan-lengkungan yang banyak dan bersambung. Sedangkan talang air sebagai penghubung Buk Renteng dengan saluran berikutnya saat melewati sungai.

Panggilan akrab Selokan Van Der Wijk ini oleh masyarakat sekitar sering disebut Buk Renteng, yang artinya saluran air yang panjang. Saluran air ini sampai sekarang masih berfungsi dan tetap kokoh berdiri menyuplai airnya untuk 20.000 ha sawah. Hulu dari Selokan Van Der Wijk ini adalah Bendungan Karang Talun yang berada di Desa Bligo yang merupakan pintu air dari Sungai Progo, panjang selokan ini dari hulunya hingga hilir di daerah Bantul mencapai 35 km. Selokan Van der Wijck merupakan bagian dari bangunan bersejarah non gedung yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama Van Der Wijk menduga merupakan pemimpin pembangunan selokan yang dibangun tahun 1909.

slokan-3
Selokan Van Der Wijk

Menurut Pak Kasimo salah satu petani yang berada di  desa Tirtosari Mulyo Agung, Minggir, Sleman, pengairan dari Selokan Van Der Wijk, dalam satu kali panen padi jenis Ciherang mampu menyentuh angka 7 ton dengan luas tanah 1,25 Ha. Sedangkan untuk tembakau bisa panen rata-rata 10 kali dengan setiap kali panennya sampai 50 kg tembakau. Dalam obrolan singkatnya pria dengan empat cucu ini sempat menuturkan cerita tentang manfaat saluran ini. “Belanda itu musuh kita, tetapi mereka meninggalkan banyak manfaat untuk kebaikan sampai sekarang ini”.
Hulu dari Selokan Van Der Wijk ini menjadi satu dengan Selokan Mataram, di bendungan Karangtalun yang berada di Desa Bligo, Ngluwar, Magelang. Kedua saluran ini dibangun berurutan. Panjang saluran Mataram ke kali Opak sepanjang 37 km, sedangkan van der wijk mencapai hilirnya di daerah Bantul sepanjang 35 km. Pembangunan Selokan Mataram banyakmengambil dari ide pembangunan Selokan Van Der Wijk yang telah berhasil menjalankan fungsinya sebagai saluran irigasi mensuplai banyak air untuk daeran yang dilewatinya. (aanardian)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY