Ini Penyebab Tingginya Harga Tanah di Jogja

0
1963
tanah malioboro (tanahbagus.com)

Harga tanah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya terus meningkat tajam. Bahkan ada di beberapa wilayah kota yang harga tanahnya mencapai angka fantastis dari Rp1,5 juta/meter hingga mencapai Rp25 juta/meter.

Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada, Dwi Ardianta mengatakan di wilayah pusat kota seperti Malioboro, tanha yang ditawarkan harganya sudah mencapai lebih dari Rp25 juta per meter. Di wilayah yang lebih pinggir seperti Kota Gede, harga berkisar Rp1,5 juta per meter.

Menurutnya, tingginya harga tanah di Yogyakarta tidak mengurangi minat pembeli, baik investor perumahan maupun pribadi. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya pembangunan fisik di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Terus meningginya harga tanah di Yogyakarta, menunjukan tingginya permintaan tanag di kawasan tersebut.

Dwi menyebutkan dua penyebab tingginya harga tanah di Yogyakarta, yaitu, pertama, Yogyakarta merupakan kawasan yang menarik untuk menjadi tempat tinggal. Kesan Yogyakarta sebagai wilayah yang nyaman, menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kawasan favorit untuk tempat tinggal.

Selain factor kenyamanan, fasilitas hidup terutama pendidikan, juga menjadi pemicu. Selain itu, factor kenangan masa lalu juga menjadi salah satu motivasi untuk tinggal di Yogyakarta. Banyak mereka yang pernah bersekolah di Yogyakarta, juga menginginkan anak-anaknya sekolah di kota ini, sekaligus menghabiskan masa tua.

Kedua, sebagai akibat tingginya daya tarik Yogyakarta sebagai tempat tinggal, kawasan ini akhirnya juga menarik secara bisnis. Kawasan Yogyakarta yang nyaman dan rekreatif menarik para pengusaha kuliner untuk menumbuhkan bisnisnya disini. Industry jasa pun berkembang persat, misalnya jasa laundry, cuci motor dan mobil, hingga industry hiburan seperti karaoke dan club malam.

Kedua hal inilah, kata dia, yang memicu melambungnya harga jual beli dan sewa tanah di Yogyakarta. Pada level ini, tanah bukan lagi sebagai factor produksi, tetapi sudah menjadi komoditas yang diperdagangkan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY